Senin, 14 Juni 2010

UNSUR-UNSUR PROPOSAL

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menggambarkan mengenai pokok-pokok pikiran yang mendasari penelitian ini, permasalahan pokok yang dihadapi beserta batasannya, tujuan penelitian, manfaat dari penelitian ini, dan sistematika penulisan yang digunakan.

1. Latar Belakang masalah
Latar belakang masalah berisikan pendeskripsian tentang permasalahan umum dari topik yang akan diteliti. Latar belakang masalah juga berisi alasan-alasan pemilihan judul/masalah yang kita kemukakan baik secara teoritis maupun secara praktis. Kita juga harus menjelaskan posisi masalah kita di antara penelitian lain yang releva melalui timbangan pustaka. Kemudian, isi terakhir dari latar belakang masalah adalah penyebutan judul tugas akhir yang akan kita ajukan.
Untuk mengawali kaliamat dari latar belakang masalah bisa digunakan dengan tujuan penulisan. Tujuan penulisan dapat dinyatakan dengan dua cara. Jika sebuah tulisan akan mengembangkan gagasan yang merupakan tema seluruh tulisan, tujuan dapat dinyatakan dalam bentuk tesis. Namun, untuk suatu tulisan yang tidak mengembangkan gagasan seperti itu, tujuan penulisan dapat dituliskan dalam bentuk pernyataaan maksud.

2. Rumusan masalah dan Tujuan Penelitian
Rumusan masalah adalah pokok permasalahan yang kan kita bahas atau pertanyaan-prtanyaan berupa pokok permasalahan yang akan kita bahas dalam karangan ilmiah. Oleh karena itu, kalimat yang kita buat dalam ’rumusan masalah’ adalah kalimat tanya, sedangkan ’tujuan penelitian’ berisi pendeskripsian secara singkat, jelas, dan tajam mengarah pada rumusan masalah dan latar belakang masalah. Kalimat dalam ’tujuan penelitian’ berupa pernyataan atau kalimat berita.

3. Batasan masalah
Batasan masalah berisikan pembatasan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian, hal-hal apa saja yang akan diangkat sebagai bahan pendukung menyelesaikan rumusan masalah.

4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisikan manfaat-manfaat apa saja yang dapat diperoleh dengan adanya penulisan ilmiah tersebut. Manfaat tersebut terutama dirasakan oleh peneliti, pihak sumber/objek penelitian dan pihak akademis/pihak umum. Atau dapat juga dibuat manfaat akademis dan manfaat praktis.

5. Metodologi penelitian
Metodologi penelitian adalah bagaimana cara peneliti memyelesaikan suatu rumusan masalah. Suatu penelitian tidak akan berguna bila tidak ada objek dari suatu kasus yang diangkat. Metodologi penelitian biasanya berisikan sebagai berikut:
• Objek penelitian
Yaitu berisikan tentang garis besar suatu objek penelitian
Contoh: Objek yang penulis jadikan bahan penelitian dalam penulisan ilmiah ini adalah rental komputer KIKI, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa dengan alamat jalan gading raya no.46, rt 01/11 kelurahan cipinang muara, Jakarta timur.
• Data
Yaitu berisikan penjelasan data pendukung apa saja yang akan dijadikan dasar/bahan penelitian
Contoh: Data yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini terdiri dari:
-Jumlah investasi
-Jumlah pendapatan dan biaya-biaya
-Discount rate/discount factor
• Metode pengumpulan data adalah cara bagaimana peneliti memperoleh data untuk membantu menjawab rumusan masalah. Metode pengumumpulan data dapat dengan cara studi lapangan dan studi kepustakaan.
- Studi Lapangan (Field Research)
Dilakukan dengan cara mengadakan penelitian langsung atau observasi terhadap objek yang diteliti dengan meminta data yang berhubungan dengan pembahasan masalah serta mewawancarai pihak-pihak yang berkepentingan di objek penelitian.
- Studi kepustakaan (Library Research)
Dalam kegiatan ini, penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan membaca buku-buku, literatur, serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti guna mendapatkan teori yang diperlukan serta menjadi referensi penulis dalam menyusun dan menyelesaikan penulisan ilmiah ini.

• Alat analisis yang digunakan
Yaitu pengaplikasian teori yang telah ada untuk menyelesaikan atau menjawab rumusan masalah
Contoh:
Alat Analisis yang digunakan
Alat analisis yang digunakan adalah Payback Period, Net Present Value, Average Rate of Return, dan Profitability Index.

6. Sistematika penulisan
Berisikan tentang sistematika dari suatu penulisan. Struktur penulisan dan penjelasan umum dari setiap bab.


BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisi pendekatan-pendekatan atau teori yang relevan dengan judul dan rumusan masalah yang akan digunakan untuk mengupas, menganalisis, dan menjelaskan variabel yang akan kita teliti.

BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini memberikan gambaran mengenai metode pengumpulan data, jenis data yang dipergunakan, sumber pengambilan data, serta metode analisis yang dipergunakan.

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Pada bab ini memberikan gambaran umum perusahaan mengenai sejarah berdirinya dan perkembangannya, tujuan perusahaan, struktur organisasi, produk perusahaan, serta menganalisis perusahaan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab terakhir ini berisi kesimpulan dari hasil kajian dalam bab IV dan diberikan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA
Teknik notasi ilmiah yang merupakan kumpulan sumber bacaan atau sumber referensi saat menulis karangan ilmiah. Untuk memperkuat pendapat kita, tentunya kita akan mencari pendapat-pendapat para ahli yang sesuai dengan bidang kajian untuk dijadikan bahan referensi dari berbagai sumber bacaan, baik berupa buku, majalah, surat kabar, maupun jurnal-jurnal ilmiah lainnya.








Referensi:
Cermat dalam Berbahasa Teliti dalam Berpikir







Sabtu, 08 Mei 2010

KARYA ILMIAH

Pengertian

Karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum yang ditulis menurut metodologi dan penulisan yang benar.

Ciri-ciri karya ilmiah
A. sistematis
B. objective
C. cermat,tepat dan benar
D. tidak persuasive
E. tidak emotif
F. tidak melebih-lebihkan sesuatu


Karya ilmiah dapat berupa makalah, usulan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.
Makalah adalah karangan ilmiah yang membahas suatu topic tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup perkuliahan, seminar, symposium atau pertemuan ilmiah lainnya. Makalah terdiri atas judul karangan, abstrak, pendahuluan, pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka.

Usulan penelitian atau proposal adalah usulan tentang suatu hal sebagai rencana kerja atau penelitian yang dituangkan dalam bentuk rancangan penelitian. Usulan penelitian memuat judul latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, hipotesis, metode penelitian, jadwal kegiatan, sistematika penulisan, dan daftar pustaka.

Skripsi adalah pelatihan pembuatan karangan ilmiah yang berupa naskah teknis sebagai persyaratan bagi calon sarjana.

Tesis adalah karangan ilmiah yang menitik beratkan pada metodologi penelitian dan metodologi penulisan.

Disertasi adalah karangan ilmiah yang selain mementingkan metodologi penelitian dan penulisan juga harus menemukan paradigma baru tentang suatu ilmu.





referensi :
- Arifin, Zaenal dan S.Amran Tasai. CERMAT BERBAHASA INDONESIA. Akademika Pressindo, Jakarta, 2008.

- Materi perkuliahan

Rabu, 28 April 2010

PENALARAN INDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF

Pernalaran Induktif adalah pernalaran yang bertolak dari pernyataan0pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain,

simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis).
Beberapa bentuk pernalaran induktif adalah sebagai berikut.


Generalisasi


Generalisasi ialah proses pernalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat

umum. Dari beberapa gejala dan data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.” hal ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data

sebagai pernyataan memberikan gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.

Sahih atau tidak sahihnya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal yang berikut.
1 Data itu harus memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, makinb sahih simpulan yang diperoleh.
2 Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang sahih.
3 Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.



Analogi
Analogi adalah cara penarikan pernalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.

Contoh:
Nina adalah lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dewngan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Tujuan pernalaran secara analogi adalah sebagai berikut.
1) Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
2) Analigi digunakan untuk menyingkapkan kekeliruan.
3) Analogi digunakan untuk menyususn klasifikasi.


Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia terkena penyakit kanker darrah dan akhirnya meninggal dunia.

Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah, yaitu sebagai berikut.

a. sebab-akibat
sebab-akibat berpola A menyebabkan B. Di samping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B,C,D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.

Contoh :
Karena maulana tidak belajar, nilai ujiannya jelek.


b. Akibat-sebab

Akibat-sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa sesorang yang pergi ke dokte. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entinem. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.

Contoh:
Dia sakit, kemarin kehujanan.


c. Akibat-akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa ”akibat” langsung disimpulkan pada suatu ”akibat” yang lain.

Contoh:
Ketika pulang dari pasar, Ibu Marie melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah.
Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat seperti berikut ini.


Hujan menyebabkan tanah becek
(A) B

Hujan menyebabkan kain jemuran basah
(A) C

Dalam proses penalaran, ”akibat-sebab”, peristiwa tanah becek (B) merupakan data, dan peristiwa kain jemuran basah (C) merupakan simpulan.

Jadi, karena tanah becek, pasti kain jemuran basah.
(B) (C)





referensi :
Arifin, Zaenal dan S.Amran Tasai. CERMAT BERBAHASA INDONESIA. Akademika Pressindo, Jakarta, 2008.

Sabtu, 17 April 2010

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposi tempay merarik simpulan itu. Proposi tempat merarik simpulan itu disebut premis.

Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.

Menarik Simpulan secara Langsung

Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis dosebut simpulan tak langsung.
Misalnya:
1. Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)

2. Tidak satupun S adalah P. (premis)
Tidak satupun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)

3. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

4. Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)

5. Semua S adalah P. (prwemis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah takberbelai. (simpulan)
Tidak satu pun yang takberbelai adalah gajah. (simpulan)


Menarik Simpulan secara Tidak Langsung

Pernalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memrlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkjan sebuah simpulan. Premis yang pertama adal;ah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.

Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa adalah serabut.

Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.

a. Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebur premis mayor dan peremis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.

Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah manusia.
Jadi, semua polisi bijaksana.

Untuk menghasilakan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme di atas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.

Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada simpulan).

Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
a) Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term penengah
Contoh:
Semua atlet haruss giat berlatih.
Xantipe adalah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
Term minor = Xantipe
Term mayor = harus giat berlatih
Term menengah = atlet.

Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.

Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel di tiang.
Oleh sebab itu, di sini tidak dapat ditarik simpulan.

b) Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu mayor, premis minor, dan simpulan.

c) Dua premis yang negative tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulau pun adalah manusia.

d) Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelai
Jadi, tidak seekor singa pun berbelai.

e) Dari premis yang positif, akan dihasilakn simpulan yang positif.
Contoh: Silakan anda buat pernalaran itu.

f) Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)

g) Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.

h) Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)


b. Silogisme hipotesis

Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berrproposisi kondisional jipotesis.

Kalau premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.

c. Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa prtoposisi alternative. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternative, simpulannya akan menolak alternative yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia buk Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang professor.

d. Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.

Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu ”Ali adalah orang cerdas karena dia adalah orang sarjana”.

Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.






referensi :
Arifin, Zaenal dan S.Amran Tasai. CERMAT BERBAHASA INDONESIA. Akademika Pressindo, Jakarta, 2008.

Rabu, 30 Desember 2009

RISET PEMASARAN DALAM MANAJEMEN

Riset Pemasaran atau Marketing Research adalah kegiatan penelitian dibidang pemasaran yang dilakukan secara sistematis mulai dari perumusan masalah, tujuan penelitian, pengumpulan data, pengolahan data dan interprestasi hasil penelitian. Kesemuanya ini ditujukan untuk masukan pihak manajemen dalam rangka identifikasi masalah dan p[engambilan keputusan untuk pemecahan masalah. Hasil riset pemasaran ini dapat dipakai untuk perumusan strategi pemasaran dalam merebut peluang pasar.

Tujuan Riset Pemasaran:

· Mendapatkan informasi yang akurat sehingga dapat menjelaskan secara obyektif kenyataan yang ada.

· Bebas dari pengaruh keinginan pribadi ( political biases ).


Risetpasar dapat menyediakan informasi kritis mengenai kebiasaan membeli, kebutuhan, preferensi dan pendapat mengenai nasabah dan calon nasabah yang ada. Ada banyak cara untuk mengadakan riset pasar, tetapi kebanyakan bisnis menggunakan satu atau lebih dari lima metode dasar:

1. Survai
2. Kelompok Fokus
3. Wawancara Pribadi
4. Pengamatan
5. Uji Coba Lapangan

Sifat dari informasi yang dibutuhkan dan jumlah uang yang Anda mau keluarkan akan menetapkan teknik mana yang Anda pilih bagi bisnis Anda.

1. Survai

Menggunakan daftar pertanyaan yang ringkas dan terus terang, maka Anda dapat menganalisis suatu kelompok contoh yang mewakili pasar sasaran Anda. Semakin luas contohnya, semakin handal hasilnya.

a. Survai pribadi adalah wawancara tatap muka. Survai tersebut memungkinkan Anda menyajikan contoh-contoh produk, pengemasan atau pemasangan iklan dan menghimpun umpan balik segera. Meskipun survai pribadi dapat menghasilkan tingkat tanggapan lebih dari 90 persen, namun survai tersebut juga mahal.

Meskipun survai pribadi dapat menghasilkan tingkat tanggapan lebih dari 90 persen, namun survai tersebut juga mahal. Meskipun demikian, karena nasabah cenderung menolak pemasaran melalui telepon, maka mengajak orang untuk mengambil bagian dalam survai telepon adalah sulit.

c. Survai surat adalah cara yang relatif murah untuk menjangkau hadirin yang luas. Survai surat lebih murah daripada survai pribadi dan survai telepon; namun demikian survai surat hanya menghasilkan tingkat tanggapan antara 3 persen hingga 15 persen. Walaupun pengembaliannya rendah, survai surat masih merupakan pilihan yang hemat biaya bagi bisnis kecil.

d. Survai online biasanya menghasilkan tingkat respons yang tak terduga dan data yang tidak dapat diandalkan karena Anda tidak memiliki kendali atas kumpulan responden. Namun survai online adalah cara yang sederhana dan murah untuk mengumpulkan bukti yang bersifat anekdot serta menghimpun pendapat dan preferensi nasabah.

2. Kelompok Fokus

Dalam kelompok fokus, seorang moderator atau fasilitator menggunakan panduan diskusi untuk memimpin diskusi di antara sekelompok orang. Sesi ini biasanya diadakan di lokasi yang netral, menggunakan teknik perekaman video atau kaset untuk merekam sesi diskusi. Kelompok fokus biasanya berlangsung satu atau dua jam, dan sedikitnya membutuhkan tiga kelompok untuk memperoleh hasil yang berimbang.

3. Wawancara Pribadi

Sama halnya dengan kelompok fokus, wawancara pribadi mencakup pengajuan pertanyaan yang tidak tersusun serta bersifat terbuka. Wawancara pribadi biasanya berlangsung sekitar satu jam dan direkam. Jenis survai ini menyediakan lebih banyak informasi subjektif dibandingkan dengan survai lainya. Biasanya hasil survai tersebut tidak mewakili suatu segmen yang luas dari jumlah penduduk; namun demikian menyediakan wawasan berharga kedalam sikap nasabah dan adalah cara yang sangat baik untuk membongkar segala persoalan yang berhubungan dengan pengembangan produk atau jasa baru.

4. Pengamatan

Tanggapan perseorangan atas survai dan kelompok fokus terkadang berbeda dengan kelakuan orang sesungguhnya. Melalui pengamatan nasabah yang sedang beraksi dengan merekam mereka melalui video di toko, di tempat kerja atau di rumah, maka Anda dapat mengamati tingkah laku pembelian mereka yang sebenarnya. Ini meyediakan gambaran yang lebih akurat kepada Anda mengenai kebiasaan penggunaan nasabah dan pola berbelanja.

5. Uji Coba Lapangan

Menempatkan produk baru dalam beberapa toko pilihan untuk menguji tanggapan nasabah dalam kondisi penjualan nyata dapat membantu Anda dengan informasi mengenai modifikasi produk, penyesuaian harga atau penyempurnaan kemasan. Membangun hubungan dengan pemilik toko setempat dan Website dapat membantu pemilik bisnis kecil untuk menguji produk mereka.



referensi:

(http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/manajemen-

pemasaran/riset-pemasaran)


http://indonesia.smetoolkit.org/indonesia/en/content/id/196/Market-Research-Techniques

CITRA (Image) SEBAGAI KEBERHASILAN SUATU PRODUK

Salah satu keberhasilan produk ditentukan oleh citra (image). Citra yang positif dari konsumen (pemakai) akan menguatkan posisi produk tersebut. Bila citra positif sebuah produk sudah tertanam, konsumen akan mengalami ketergantungan yang sangat kuat akan produk tersebut. Tetapi bila citra poduk sudah negative dimata konsumen, maka konsumen perlahan-lahan akan pergi.


Suatu perusahaan harus dapat mengetahui perilaku konsumen terhadap produknya. Bila mereka tidak dapat mengetaui bagaimana sikap konsumen terhadap produk perusahaan, maka perusahaan akan kehilangan pelanggan secara perlahan.


Mengukur Kekuatan Citra Produk

Jika produsen telah menawarkan suatu produk kepada konsumen, biasanya untuk langkah berikutnya adalah melakukan suatu penelitian untuk mengukur tingkat penerimaan masyarakat terhadap produk itu maupun institusi yang menghasilakan. Meningkatkan angka permintaan belum tentu merupakan indikasi bahwa suatu produk telah diterima sepenuhnya. Bias saja angka permintaan hanya efek dari kegiatan promosi yang gencar, sehingga permintaan akan produk baru merupakan percobaan.


Seperti yang telah di ungkapkan di atas bahwa salah satu keberhasilan produk ditentukan oleh citra (image). Bila ekspansi pasar telah dilakukan , maka harus segera dilakukan penelitian untuk mengetahui posisi produk dalam format citra dalam masyarakat.


Pengertian dari citra suatu produk sendiri adalah gambaran yang diperoleh konsumen mengenai suatu produk. Setiap perusahaan harus berusaha semaksimal mungkin agar citra yang ada pada konsumen adalah suatu citra yang positif sehingga kelangsungan produksinya dapat teris berlangsung.


Bagaimana cara mengetahui bahwa “itu” adalah suatu citra produk?

Citra suatu produk dapat kita ketahui berdasarkan

· Pengalaman konsumen sendiri

· Berita dari “mulut ke mulut”

· Pandangan konsumen dari fisik sebuah produk

· Sistem pelayanan dari produsen

· Fasilitas yang disediakan oleh produsen

· Dll.



Mengukur Umpan Balik Konsumen terhadap Kualitas Sebuah Produk

· Membuat sejumlah pertanyaan yang dijabarkan dari indicator (indicator citra konsumen terhadap produk) atau biasa disebut dengan kuesioner

· Kuesioner disebarkan

· Kuesioner ditabulasikan

· Menghitung jawaban responden dengan daftar indeks.





referensi:

Panuju, Redi. 2000. Komunikasi Bisnis . PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. hlm 44


Minggu, 13 Desember 2009

PERSEPSI KONSUMEN

Persepsi adalah proses pemahaman, pengorganisasian, dan pengartian informasi berdasarkan pengalaman pribadi.

Seseorang melihat suatu obyek atau persoalan yang dihadapinya tidaklah sama satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut terjadi karena persepsi seseorang tidak selalu sama. Untuk obyek atau persoalan yang sama, apabila dipandang dari sudut pandang yang berbeda akan memberikan interpretasi yang berbeda. Demikian juga persepsi. Perbedaan proses interpretasi seseorang terutama dipengaruhi oleh kadar dan proses pengalaman seseorang.



Persepsi seseorang dapat berbeda dengan orang lain karena adanya subproses selektif terhadap obyek yang menjadi stimulan masukannya. Subproses selektif meliputi ekposur selektif, atensi selektif, dan retensi selektif.



Ekposur selektif

Hanya stimuli yang terekspose secara menarik akan mendapat perhatian seseorang.

contoh : seorang wanita akan tertarik terhadap suatu produk fashion (pakaian) yang ada dalam sebuah catalog karena catalog tersebut dikemas secara menarik. Dari model sebagai peraga, mix and match pakaian, warna-warna pakaian, aksesoris, serta harga-harga yang terjangkau. Dari sebuah catalog tersebut, konsumen dapat tertarik dan produk tersebut akan mendapat respon dari konsumen tersebut.




Atensi selektif

Stimuli akan memperoleh perhatian ( atau sebaliknya mengalami distorsi ) apabila terdapat kesesuaian dengan kepercayaannya.

Contoh : seseorang akan tertarik pada satu stand pakaian yang bertuliskan DISKON 75%, sementara perkataan seorang pramuniaga yang mempromosikan keunggulan pakaian model terbaru di standnya diabaikan/ biasa-biasa saja.



Retensi selektif

Seseorang hanya akan menginginkan stimulus apabila memang berkehendak untuk mengingatnya.

Orang cenderung akan mengingat hal-hal baik yang disebutkan tentang produk yang disukai dan melupakan hal-hal baik yang disebutkan tentang produk yang bersaing (Kotler,2002,hal.198)

Contoh : ada 2 produk kosmetik merk A dan B yang memiliki fungsi yang sama yaitu memutihkan wajah dan membantu memudarkan noda jerawat. Seorang konsumen kebetulan menggunakan kosmetik merk A dan cocok untuk kulit wajahnya, ia tidak suka terhadap kosmetik merk B karena kosmetik tersebut membuat kulit semakin berjerawat. Ketika sedang berbincang-bincang dengan temannya tentang kosmetik apa yang cocok untuk sang teman, maka konsumen tersebut akan keunggulan kosmetik A dengan bukti kulit wajahnya yang tambah putih dan bersih dari noda jerawat. Sementara fungsi dari produk kosmetik B yang sama dengan kosmetik A tidak dibicarakannya.





referensi:

Budiarto, Teguh . “Dasar Pemasaran”. universitas gunadarma .Jakarta1993. Hal.30-31

http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=8&submit.x=18&submit.y=14&submit=next&qual=high&submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Fmasa%2F2007%2Fjiunkpe-ns-s1-2007-36403152-4210-potensi_pasar-chapter2.pdf