Senin, 14 Juni 2010

MEMBUAT TULISAN ILMIAH

Cara Membuat Tulisan Ilmiah

Langkah pertama, tulislah sesuatu yang Anda kuasai atau sesuai dengan minat Anda dan dibutuhkan oleh orang banyak. Kalau Anda bukan dokter, janganlah menulis tentang kesehatan kecuali Anda telah mempelajarinya. Janganlah menulis tentang belajar menggunakan sepeda karena pasti tidak dibutuhkan oleh pembaca. Tulislah tentang bertanam pohon mangga yang terus berbuah tanpa bergantung pada musim, bagaimana bisa kaya dalam seminggu, bagaimana menjadi pintar dalam sehari, dapat berenang dalam dua jam, atau bisa menikah tanpa modal.

Langkah kedua, kumpulkanlah data-data untuk menunjang tulisan Anda, baik data-data primer maupun data-data sekunder. Bila perlu dilengkapi juga dengan foto dan tabel. Ini dibutuhkan untuk menunjang tulisan Anda sehingga Anda mudah meyakinkan pembaca bahwa tulisan yang Anda buat adalah tulisan ilmiah. Data-data ini adalah syarat bahwa fakta yang Anda sampaikan bukan isu, kata orang, atau hanya isapan jempol.

Langkah ketiga, buatlah kerangka karangan (outline). Membuat tulisan ilmiah walaupun populer tidak sama dengan membuat cerpen atau cerita humor. Semuanya harus Anda persiapkan dengan matang, tidak bisa sambil lalu. Anda tidak boleh melewatkan satu data pun untuk menunjang tulisan Anda. Karenanya, Anda harus membuat kerangka tulisan, apa saja yang akan ditulis, referensi apa yang dibutuhkan, atau kalau perlu Anda mempersiapkan hasil wawancara dengan narasumber yang akan menunjang tulisan Anda. Misalnya Anda ingin menulis tentang beternak kelinci, buatlah outline-nya:

Langkah keempat, mempersiapkan dan menguasai kosakata yang menunjang permasalahan yang akan dan tengah Anda tulis. Ini untuk mempermudah pembaca memahami tulisan Anda.

Langkah kelima, gunakanlah bahasa Indonesia yang menunjang tulisan ilmiah Anda. Bila tulisan Anda itu untuk laporan penelitian atau jurnal ilmiah, gunakanlah bahasa Indonesia baku dan jangan bertele-tele. Bila tulisan Anda itu sebagai karya ilmiah populer atau untuk dibaca masyarakat umum, gunakanlah bahasa yang ”cair”, tidak kaku walaupun tetap dalam lingkup bahasa ilmiah dan tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak bersifat menggurui, memberikan informasi dan motivasi. Selain itu, gunakanlah metode dekripsi (paparan) untuk penulisan ilmiah populer. Pembaca akan merasa jenuh bila hanya disuguhi data dan tabel. Berilah gambaran berupa paparan sehingga pembaca umum dapat memahami tulisan Anda.



Data-data Penelitian

Pengumpulan Data Penelitian Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi:
a.Data Primer: Data yang diusahakan/didapat oleh peneliti

b.Data Sekunder: Data yang didapat dari orang/instansi lain

DATA PRIMER
Pengumpulan data primer membutuhkan perancangan alat dan metode pengumpulan
data

Metode pengumpulan data penelitian:

a.Observasi
b.Wawancara
c.Kuesioner (Daftar Pertanyaan)
d.Pengukuran Fisik
e.Percobaan Laboratorium


DATA SEKUNDER
Data Sekunder cenderung siap “pakai”, artinya siap diolah dan dianalisis oleh penelitian. Contoh Instansi penyedia data:

•Biro Pusat Statistik (BPS)
•Bank Indonesia
•Badan Meteorologi dan Geofisika
•dll.


Semua metode mensyaratkan pencatatan yang detail, lengkap, teliti dan jelas Untuk mencapai kelengkapan, ketelitian dan kejelasan data, pencatatan data harus dilengkapi dengan:
•Nama pengumpul data
•Tanggal dan waktu pengumpulan data
•Lokasi pengumpulan data
•Keterangan-keterangan tambahan data/istilah/responden


Kapan Waktu Memulai Penelitian Ilmiah?

Sebuah penelitian yang bersifat ilmiah merupakan serangkaian kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematik untuk menemukan informasi yang ilmiah dan atau teknologi baru, membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran hipotesis, sehingga dapat dirumuskan teori, proses gejala alam, atau gejala sosial. Dengan berbagai hasil penelitian yang didasarkan pada metode ilmiah tersebut akan memunculkan ilmu pengetahuan baru yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Kita semua dapat memulai penelitian dengan cara yang sangat sederhana. Penelitian umumnya diawali dari penemuan suatu masalah. Tetapi tidak mutlak harus ada masalah. Penelitian dapat merupakan lanjutan atau pengembangan, bahkan penyempurnaan dari penelitian yang ada terlebih dahulu. Penelitian juga dapat dimulai dari keinginan si peneliti untuk membuktikan teori atau hipotesis yang diajukan pada penelitian sebelumnya dengan cara sama atau berbeda. Jadi, banyak cara untuk memulai penelitian


Sumber :
http://dadieditor.multiply.com/journal/item/101/Langkah_Mudah_Menjadi_Penulis
ssiregar.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/.../06_pengumpulan_data.pdf
http://sambodo.multiply.com/journal/item/2/Apa_itu_Meneliti_dan_Penelitian_

METODE ILMIAH

Pengertian Metode Ilmiah


Metode berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu, tidak serampangan. Sistematis berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Koheren berarti setiap bagian dari jabaran ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian (konsisten). Sedangkan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan disebut penelitian (research). Usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah

Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol.


Langkah - Langkah Metode Ilmiah


1.Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.

2.Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.

3.Menyusun hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka.

4.Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.

5.Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).

6.Menguji kesimpulan. Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori.

sumber :
http://file2shared.wordpress.com/ilmu-pengetahuan-metode-ilmiah-dan-penelitian-ilmiah/
http://id.wikipedia.org

PRA PENULISAN ILMIAH

Pra penulisan ilmiah

Penelitian pada dasarnya adalah suatu penyelidikan. Penyelidik memiliki penalaran atau motivasi untuk memperoleh pengetahuan yang lebih baik terhadap sesuatu dalam hidup atau duniannya. Masalah penelitian adalah situasi yang menyebabkan peneliti merasakan kegelisahan, kebingungan, ketidaknyamanan dan keingintahuan yang tinggi.

Hakekat masalah adalah mencari solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Sumber masalah adalah suatu hal yang menjadi object permasalahan dalam suatu penulisan ilmiah.
• Pengalaman peneliti atau orang lain di lingkungan profesinya.
• Hasil penelitian terdahulu yang didokumentasikan melalui literatur ilmiah seperti makalah, proseding, jurnal, laporan penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi.
• Teori: kelemahan-kelemahan suatu teori merupakan masalah penelitian, penelitian ditujukan untuk mengklarifikasi teori yang telah ada.

Tekhnik merumuskan masalah
• Tentukan enyebab masalahnya terlebih dahulu (minat, kesenjangan, sosial/teknologis, perubahan kebijakan).
• Lihat situasi secara rasional.
• Kumpulkan informasi pendahuluan (preliminary).
• Pahami subjek yang diteliti dengan baik melalui kajian/review literatur.
• Lakukan diskusi dengan stakeholder dan peneliti lain.
• Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
• Rumusan hendaknya jelas dan padat.
• Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah.
• Rumusan masalah dasar dalam membuat hipotesa.

Mebuat hipotesis yang baik
• menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih,
• dituangkan dalam bentuk kalimat pertanyaan,
• dirumuskan secara singkat, padat, dan jelas, serta
• dapat diuji secara empiris.

Observasi awal
Setelah topik yang akan diteliti dalam proyek ilmiah ditentukan, langkah pertama untuk melakukan proyek ilmiah adalah melakukan observasi awal untuk mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut melalui pengalaman, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang sesuai.
• Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview, dll.
• Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll.
• Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.



referensi:
materi perkuliahan
http://webyusuf.co.cc/search/Hakekat+Karya+Ilmiah+Perumusan+Masalah
http://iyozdamnation.wordpress.com/2010/05/01/hakekat-karya-ilmiah-perumusan-masalah


UNSUR-UNSUR PROPOSAL

BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini menggambarkan mengenai pokok-pokok pikiran yang mendasari penelitian ini, permasalahan pokok yang dihadapi beserta batasannya, tujuan penelitian, manfaat dari penelitian ini, dan sistematika penulisan yang digunakan.

1. Latar Belakang masalah
Latar belakang masalah berisikan pendeskripsian tentang permasalahan umum dari topik yang akan diteliti. Latar belakang masalah juga berisi alasan-alasan pemilihan judul/masalah yang kita kemukakan baik secara teoritis maupun secara praktis. Kita juga harus menjelaskan posisi masalah kita di antara penelitian lain yang releva melalui timbangan pustaka. Kemudian, isi terakhir dari latar belakang masalah adalah penyebutan judul tugas akhir yang akan kita ajukan.
Untuk mengawali kaliamat dari latar belakang masalah bisa digunakan dengan tujuan penulisan. Tujuan penulisan dapat dinyatakan dengan dua cara. Jika sebuah tulisan akan mengembangkan gagasan yang merupakan tema seluruh tulisan, tujuan dapat dinyatakan dalam bentuk tesis. Namun, untuk suatu tulisan yang tidak mengembangkan gagasan seperti itu, tujuan penulisan dapat dituliskan dalam bentuk pernyataaan maksud.

2. Rumusan masalah dan Tujuan Penelitian
Rumusan masalah adalah pokok permasalahan yang kan kita bahas atau pertanyaan-prtanyaan berupa pokok permasalahan yang akan kita bahas dalam karangan ilmiah. Oleh karena itu, kalimat yang kita buat dalam ’rumusan masalah’ adalah kalimat tanya, sedangkan ’tujuan penelitian’ berisi pendeskripsian secara singkat, jelas, dan tajam mengarah pada rumusan masalah dan latar belakang masalah. Kalimat dalam ’tujuan penelitian’ berupa pernyataan atau kalimat berita.

3. Batasan masalah
Batasan masalah berisikan pembatasan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian, hal-hal apa saja yang akan diangkat sebagai bahan pendukung menyelesaikan rumusan masalah.

4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisikan manfaat-manfaat apa saja yang dapat diperoleh dengan adanya penulisan ilmiah tersebut. Manfaat tersebut terutama dirasakan oleh peneliti, pihak sumber/objek penelitian dan pihak akademis/pihak umum. Atau dapat juga dibuat manfaat akademis dan manfaat praktis.

5. Metodologi penelitian
Metodologi penelitian adalah bagaimana cara peneliti memyelesaikan suatu rumusan masalah. Suatu penelitian tidak akan berguna bila tidak ada objek dari suatu kasus yang diangkat. Metodologi penelitian biasanya berisikan sebagai berikut:
• Objek penelitian
Yaitu berisikan tentang garis besar suatu objek penelitian
Contoh: Objek yang penulis jadikan bahan penelitian dalam penulisan ilmiah ini adalah rental komputer KIKI, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa dengan alamat jalan gading raya no.46, rt 01/11 kelurahan cipinang muara, Jakarta timur.
• Data
Yaitu berisikan penjelasan data pendukung apa saja yang akan dijadikan dasar/bahan penelitian
Contoh: Data yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini terdiri dari:
-Jumlah investasi
-Jumlah pendapatan dan biaya-biaya
-Discount rate/discount factor
• Metode pengumpulan data adalah cara bagaimana peneliti memperoleh data untuk membantu menjawab rumusan masalah. Metode pengumumpulan data dapat dengan cara studi lapangan dan studi kepustakaan.
- Studi Lapangan (Field Research)
Dilakukan dengan cara mengadakan penelitian langsung atau observasi terhadap objek yang diteliti dengan meminta data yang berhubungan dengan pembahasan masalah serta mewawancarai pihak-pihak yang berkepentingan di objek penelitian.
- Studi kepustakaan (Library Research)
Dalam kegiatan ini, penulis melakukan penelitian kepustakaan dengan membaca buku-buku, literatur, serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti guna mendapatkan teori yang diperlukan serta menjadi referensi penulis dalam menyusun dan menyelesaikan penulisan ilmiah ini.

• Alat analisis yang digunakan
Yaitu pengaplikasian teori yang telah ada untuk menyelesaikan atau menjawab rumusan masalah
Contoh:
Alat Analisis yang digunakan
Alat analisis yang digunakan adalah Payback Period, Net Present Value, Average Rate of Return, dan Profitability Index.

6. Sistematika penulisan
Berisikan tentang sistematika dari suatu penulisan. Struktur penulisan dan penjelasan umum dari setiap bab.


BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisi pendekatan-pendekatan atau teori yang relevan dengan judul dan rumusan masalah yang akan digunakan untuk mengupas, menganalisis, dan menjelaskan variabel yang akan kita teliti.

BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini memberikan gambaran mengenai metode pengumpulan data, jenis data yang dipergunakan, sumber pengambilan data, serta metode analisis yang dipergunakan.

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS
Pada bab ini memberikan gambaran umum perusahaan mengenai sejarah berdirinya dan perkembangannya, tujuan perusahaan, struktur organisasi, produk perusahaan, serta menganalisis perusahaan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab terakhir ini berisi kesimpulan dari hasil kajian dalam bab IV dan diberikan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA
Teknik notasi ilmiah yang merupakan kumpulan sumber bacaan atau sumber referensi saat menulis karangan ilmiah. Untuk memperkuat pendapat kita, tentunya kita akan mencari pendapat-pendapat para ahli yang sesuai dengan bidang kajian untuk dijadikan bahan referensi dari berbagai sumber bacaan, baik berupa buku, majalah, surat kabar, maupun jurnal-jurnal ilmiah lainnya.








Referensi:
Cermat dalam Berbahasa Teliti dalam Berpikir







Sabtu, 08 Mei 2010

KARYA ILMIAH

Pengertian

Karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum yang ditulis menurut metodologi dan penulisan yang benar.

Ciri-ciri karya ilmiah
A. sistematis
B. objective
C. cermat,tepat dan benar
D. tidak persuasive
E. tidak emotif
F. tidak melebih-lebihkan sesuatu


Karya ilmiah dapat berupa makalah, usulan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.
Makalah adalah karangan ilmiah yang membahas suatu topic tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup perkuliahan, seminar, symposium atau pertemuan ilmiah lainnya. Makalah terdiri atas judul karangan, abstrak, pendahuluan, pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka.

Usulan penelitian atau proposal adalah usulan tentang suatu hal sebagai rencana kerja atau penelitian yang dituangkan dalam bentuk rancangan penelitian. Usulan penelitian memuat judul latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, hipotesis, metode penelitian, jadwal kegiatan, sistematika penulisan, dan daftar pustaka.

Skripsi adalah pelatihan pembuatan karangan ilmiah yang berupa naskah teknis sebagai persyaratan bagi calon sarjana.

Tesis adalah karangan ilmiah yang menitik beratkan pada metodologi penelitian dan metodologi penulisan.

Disertasi adalah karangan ilmiah yang selain mementingkan metodologi penelitian dan penulisan juga harus menemukan paradigma baru tentang suatu ilmu.





referensi :
- Arifin, Zaenal dan S.Amran Tasai. CERMAT BERBAHASA INDONESIA. Akademika Pressindo, Jakarta, 2008.

- Materi perkuliahan

Rabu, 28 April 2010

PENALARAN INDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF

Pernalaran Induktif adalah pernalaran yang bertolak dari pernyataan0pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain,

simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis).
Beberapa bentuk pernalaran induktif adalah sebagai berikut.


Generalisasi


Generalisasi ialah proses pernalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat

umum. Dari beberapa gejala dan data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.” hal ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data

sebagai pernyataan memberikan gambaran seperti itu.
Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.

Sahih atau tidak sahihnya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal yang berikut.
1 Data itu harus memadai jumlahnya. Makin banyak data yang dipaparkan, makinb sahih simpulan yang diperoleh.
2 Data itu harus mewakili keseluruhan. Dari data yang sama itu akan dihasilkan simpulan yang sahih.
3 Pengecualian perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.



Analogi
Analogi adalah cara penarikan pernalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.

Contoh:
Nina adalah lulusan akademi A.
Nina dapat menjalankan tugasnya dewngan baik.
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Tujuan pernalaran secara analogi adalah sebagai berikut.
1) Analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan.
2) Analigi digunakan untuk menyingkapkan kekeliruan.
3) Analogi digunakan untuk menyususn klasifikasi.


Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Hujan turun dan jalan-jalan becek. Ia terkena penyakit kanker darrah dan akhirnya meninggal dunia.

Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah, yaitu sebagai berikut.

a. sebab-akibat
sebab-akibat berpola A menyebabkan B. Di samping itu, hubungan ini dapat pula berpola A menyebabkan B,C,D, dan seterusnya. Jadi, efek dari satu peristiwa yang dianggap penyebab kadang-kadang lebih dari satu.

Contoh :
Karena maulana tidak belajar, nilai ujiannya jelek.


b. Akibat-sebab

Akibat-sebab ini dapat kita lihat pada peristiwa sesorang yang pergi ke dokte. Ke dokter merupakan akibat dan sakit merupakan sebab, jadi mirip dengan entinem. Akan tetapi, dalam penalaran jenis akibat-sebab ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.

Contoh:
Dia sakit, kemarin kehujanan.


c. Akibat-akibat
Akibat-akibat adalah suatu penalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa ”akibat” langsung disimpulkan pada suatu ”akibat” yang lain.

Contoh:
Ketika pulang dari pasar, Ibu Marie melihat tanah di halamannya becek. Ibu langsung menyimpulkan bahwa kain jemuran di belakang rumahnya pasti basah.
Dalam kasus itu penyebabnya tidak ditampilkan, yaitu hari hujan. Pola itu dapat seperti berikut ini.


Hujan menyebabkan tanah becek
(A) B

Hujan menyebabkan kain jemuran basah
(A) C

Dalam proses penalaran, ”akibat-sebab”, peristiwa tanah becek (B) merupakan data, dan peristiwa kain jemuran basah (C) merupakan simpulan.

Jadi, karena tanah becek, pasti kain jemuran basah.
(B) (C)





referensi :
Arifin, Zaenal dan S.Amran Tasai. CERMAT BERBAHASA INDONESIA. Akademika Pressindo, Jakarta, 2008.

Sabtu, 17 April 2010

PENALARAN DEDUKTIF

Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum daripada proposi tempay merarik simpulan itu. Proposi tempat merarik simpulan itu disebut premis.

Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tak langsung.

Menarik Simpulan secara Langsung

Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis dosebut simpulan tak langsung.
Misalnya:
1. Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)

2. Tidak satupun S adalah P. (premis)
Tidak satupun P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)

3. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

4. Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)

5. Semua S adalah P. (prwemis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Tidak satu pun tak-P adalah S. (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah takberbelai. (simpulan)
Tidak satu pun yang takberbelai adalah gajah. (simpulan)


Menarik Simpulan secara Tidak Langsung

Pernalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memrlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkjan sebuah simpulan. Premis yang pertama adal;ah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang bersifat khusus.

Untuk menarik simpulan secara tidak langsung ini, kita memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu, umpamanya setiap manusia akan mati, semua ikan berdarah dingin, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa adalah serabut.

Beberapa jenis penalaran deduksi dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut.

a. Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebur premis mayor dan peremis yang bersifat khusus disebut premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.

Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua polisi adalah manusia.
Jadi, semua polisi bijaksana.

Untuk menghasilakan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah pada silogisme di atas ialah manusia. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.

Contoh:
Semua manusia bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada simpulan).

Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut.
a) Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term penengah
Contoh:
Semua atlet haruss giat berlatih.
Xantipe adalah seorang atlet.
Xantipe harus giat berlatih.
Term minor = Xantipe
Term mayor = harus giat berlatih
Term menengah = atlet.

Kalau lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
Contoh:
Gambar itu menempel di dinding.
Dinding itu menempel di tiang.

Dalam premis ini terdapat empat term yaitu gambar, menempel di dinding, dan dinding menempel di tiang.
Oleh sebab itu, di sini tidak dapat ditarik simpulan.

b) Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu mayor, premis minor, dan simpulan.

c) Dua premis yang negative tidak dapat menghasilkan simpulan.
Contoh:
Semua semut bukan ulat.
Tidak seekor ulau pun adalah manusia.

d) Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
Contoh:
Tidak seekor gajah pun adalah singa.
Semua gajah berbelai
Jadi, tidak seekor singa pun berbelai.

e) Dari premis yang positif, akan dihasilakn simpulan yang positif.
Contoh: Silakan anda buat pernalaran itu.

f) Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Sebagian orang jujur adalah petani.
Sebagian pegawai negeri adalah orang jujur.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)

g) Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
Contoh:
Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA.
Sebagian pemuda adalah mahasiswa.
Jadi, sebagian pemuda adalah lulusan SLTA.

h) Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh:
Beberapa manusia adalah bijaksana.
Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
Jadi, . . . (tidak ada simpulan)


b. Silogisme hipotesis

Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berrproposisi kondisional jipotesis.

Kalau premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Besi dipanaskan.
Jadi, besi memuai.
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
Besi tidak dipanaskan.
Jadi, besi tidak akan memuai.

c. Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa prtoposisi alternative. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternative, simpulannya akan menolak alternative yang lain.
Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia seorang kiai.
Jadi, dia buk Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia adalah seorang kiai atau professor.
Dia bukan seorang kiai.
Jadi, dia seorang professor.

d. Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Ali adalah seorang sarjana.
Jadi, Ali adalah orang cerdas.

Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu ”Ali adalah orang cerdas karena dia adalah orang sarjana”.

Beberapa contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat diubah menjadi silogisme.






referensi :
Arifin, Zaenal dan S.Amran Tasai. CERMAT BERBAHASA INDONESIA. Akademika Pressindo, Jakarta, 2008.